Khutbah jum’at 1 Mei 2015 di Majid Firdaus Al-A’la
Oleh : Muslihuddin Atthoyibi
Cobaan dari Allah SWT. Dan Maksud Allah dibalik cobaan-Nya
Segala puji bagi Allah SWT. Tuhan
sekalian alam yang sampai saat ini masih memberi kita ni’at yang berlipat lipat-lipat
hingga kita tak sempat bahkan tidak akan kuat untuk menghitungya, yakni ni’mat
iman islam dan ihsan serta masih memberi kita ni’mat yang menurut rosulullah
SAW. Ni’mat ini sangat jarang disyukuri oleh manusia yakni ni’mat sehat dan
ni’mat sempat.
Yang pertama ni’mat sehat
Alhamdulillah pada hari yang mubarakah ini kita masih diberi kesehatan untuk
mengikuti ibadah sholat Ju’ah sa’idul ayyam dengan sehat wal afiat dan masih banyak saudara-saudara kita
yaang pada hari ini masih belum diberi kesempatan oleh Allah karena kurang
sehat. Kedua nikmat sempat kesempatan yang kita peroleh hari ini adalah
kesempatan yang luar bisa karena kita bisa berjumpa dan beribadah secara
berjama’ah, rasa syukur ini kita haturkan karena kita masih lebih beruntung dibandingakan
saudara kita yang diluar sana yang masih sibuk mencari harta dunia hingga ia
lupa dengan kewajibanya untuk beribadah pada yang maha Kuasa.
Sholawat serta salam semoga tetap
tercurah kepada junjungan kita sayyidina wa habbibina muhammad SAW. Yang kita
nantikan syafaatnya. Disini khotib kembali mengingatkan kepada diri khotib
pribadi khususnya dan kepada jama’ah sekalianuntuk senantiasa meningkatkan
ketakwaan kita kehadirai ilahi robby, dengan cara meninjalankan perintah nya
dan menjauhi laranganya.
Ma’asyiral muslimin rohimakumullah
Melihat fenomena yang terjadi
disekitar kita banyak sekali kebiasaan kebiasaan yang bahkan menjadi sebuah
budaya yang terjadi dalam masyarakat dalam menyikapi setiap cobaan yang
diberikan oleh Allah SWT. Ada diantara manusia-manusia yang bersabar denag
kehadiran cobaan itu, ada yang mengeluh dengan nada pilu dan ada pula yang
sangat buruk adalh menghujat dengan sengit atas apa yang dialaminya.
Keadan-keadan diatas mafhum /
umum bahkan sering kia temui namun sebagi muslim dan sebagai orang yang beriman
harus selalu saling mengungatkan antara mu’min satu dengan mu’mian yang lain
karena kita semua adalah saudara.
Ma’asyiral muslimin rohimakumullah
Cobaan yang diberikan oleh Allah SWT. Menurut para ulama’
dibagi dua yakni cobaa’ berupa kesenangan dan cobaan berupa kesengsaraan
Pertama cobaan berupa
kesenangan adlah cobaan yang diberikan
kepada seorang hamba yang berupa kesenangan lahiriah yang dalam perwujudan
cobaan ini berupa pemberian kekayaan kemegahan hidup kelengkapan fasilitas
hidupnya. Dan dalam cobaan inilah yang terkadang bisa sangat melalaikan bagi
manusia, dan dalam menyikapi maslah ini para ulama memberi dua opsi ketia
seseorang menerima cobaan ini yakni Syukur dan istighfar (memohon ampun), yang
jadi pertanyaan kenapa harus dua perkara itu dikarena : Syukur, maksudnya
Adalah ketika manusia mendapatkan sebuah ni’mat manusia harus senantiasa
bersyukur “barang siapa yang bersyukur ku pasti akan aku tambah ni’mat
sedangkan yang kufur maka sungguh adzabku sangatlah pedih” dari ayat ini sangat
gamblang tentang kewajiban bersyukur. Kemudian istighfar (memohon ampun)
maksudnya adalah ketika seseorang mendapatak sebuah ni’mat janag lupa adnya
rasa khawatir bahwa harta yang diperoleh, keni’matan yang didapat bisa membuat
kita dilalaikan oleh kecintaan pada dunai ini,
Kedua cobaan berupa
kesaengsraan yakni cobaan yang ditimpakan kepada seseorang berupa kekurangan
harta, makanan, pakaian, tempat tinggal dan lainya, yang mana dalam cobaan ini
manusia meras terbatas dalam segala sendi kehidupan, gerknya pun dipengaruhi
oleh keadaan, dalam menyikap cobaan seperti ini para uama’ paun menetapakn dua
solusi yakni Iatighfar dan Syukur. kenapa para ulama memberikan dua opsi ini?
Para ulama memberi alasan : yang dimaksud Istigfar disini adalah kesadaran pada
diri manusia harus selalu di tingkatkan dan kembali lagi kewaspadaan diri pada
setiap menyikapi cobaan bisa jadi denagan datangnya cobaan yang berupa
kesengsaraan ini membuat manusia lupa dengan kenikmatan dibalik kesusahanya,
waspada pada sekap menghujat datangnya kesengsaraan yang malah bisa memunculkan
rasa kufur pada Allah. Lalu Syukur hal ini dijadikan solusi karena denag
senantiasa bersyukur kita akan lebih bisa menata hati kita agar selalu
behusuzhon pada Allah “Allah pada prasangka hamba-Nya” dan bisa jadi dengan
keadana fakir ini manusia akan lebi bisa mengingat Allah SWT. Dan kalau diberi
kenikmatan malah cenderuang luapa.
Ma’asyiral muslimin rohimakumullah
Maksud/ Makna dibalik cobaan Allah SWT.
Dari cobaan-cobaan yang diberiakan
oleh Allah SWT. Entah itu berupa kesenangan atau kesengsaraan itu pastilah ada
hikmah diadalamnya. Hal yang tidak
mungkin disetiap kejadin yang kita jalani hanya sesuatu hasil dari hal yang
tidak direncanakan, semau kejadian yang terjadi adalah rencana Allah segala
sesuati itu “be design ” bukan “be acciden” artinya sesuatu dari Allah itu
hasil dari rencana-Nya bukan dari kecelakan atau kesalahan teknis, dan saya
akan menjelaskan tiga maksud/makana dibalaik cobaan yang direncanakan Allah
SWT. :
- 1. Mengangkat derajat manusia
Artinya adalah cobaan yang diberikan kepada
manusia ini adalah untuk mengangat derajat manusia buakan hanya dihadapan
manusia lain namun juga kepada seluruh makhluk dilangit dan dibumi, kita sering
meliahat ada orang yang dzolim, jahat pelit dan sebagainya namun tetap kaya
bahkan semakin kaya, dan mujur nasibya dan sebaliknya ada orang yang raji
‘ibadah, namun tetap miskin hidupnya susah bahkan seperti semakin susah dengan
menderita penyakit yang sangat menjijikan hingga dia dijauhi oleh masyarakat
sekitarnya. Dan atas kekuatan jiwanya menerima cobaan itual allah mengumumkan
kepada seluruh penghunia langait “wahai seluruh penghuni langit lihatlah si
fulan/fulanah adalah orang yang aku kasihi maka kasihilah ia” dan ketia
seseorang dicintai oleh Allah dan seluruk penghuni langit hal yan pasti adalah
ia kan dicintai seluruh makhluk didinia inai
- 2. Menghukum manusia atas dosa dosanya
Yaitu cobaan yang diberikan kepada manusia
dengan tujuan hukuman atas dosa yang dilakukan hal ini ditujukan agar bisa
menjadi penghapus dosa dan pemberin efek jera pada manusia agar tidak mengulangi
dosa-dosa yang pernah dilakukanya.
- 3. Menjaga diri manusia agar tidak tejerumus kedalam kesalahan.
Cobaan yang diberikan oleh الله kepada
manusia yang berupa kesengsaraan secara lahiriah namun secara bathiniyah ini
berupa control pada hati manusia agar lebih sabar dan lebih baik dalam
menyikapi sebuah masalah. Contoh cobaan yang dialami oleh orang yang mengalami
kebutaan, merka secara indrawi mungkin terbatas dan seperti kekurangan namun
secara batini mereka merasa lebih terjaga, diri mereka yang tidak bias melihat
gemerlapnya dunia mereka bias mejaga diri mereka dari kemaksiatan yang disebabkan
oleh mata mereka, dan orang-rang yang memiliki keterbatasab dalam penglihatan
matanya mereka mempunyai hati yang peka pada suatu masalah.
Dan orang-orang yang tuna netra akan mendapatkan pahala sorga jikalau
dari mereka senantiasa bersyukur dan berdzikir kepada الله

0 komentar:
Posting Komentar